in Ekonomi, News, Teknologi

Riset Google: Nilai Ekonomi Digital RI Tumbuh 11 Persen saat Corona

Google baru saja mengumumkan laporan terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara. Menurut estimasi mereka, ekonomi digital Indonesia tumbuh 11 persen dari tahun sebelumnya dengan nilai saat ini 44 miliar dolar AS (Rp 619 triliun).

Laporan yang dikerjakan bersama firma konsultasi manajemen Bain dan perusahaan investasi Temasek itu juga menyebut, ekonomi digital Asia Tenggara akan mencapai nilai 105 miliar dolar AS tahun ini. Catatan tersebut menunjukkan kalau ekonomi digital Asia Tenggara tumbuh 5 persen dari 2019.

Google menjelaskan, krisis pandemi corona telah mendorong konsumen di rumah untuk memanfaatkan layanan digital guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari belanja online, antar makanan hingga hiburan.

“Virus corona telah membawa percepatan adopsi digital permanen dan masif,” kata laporan tersebut, yang dipublikasi Selasa (10/11).

Laporan tersebut, yang mencakup Indonesia, Malaysia, Vietnam, Singapura dan Filipina, mengatakan kalau pengguna internet baru di Asia Tenggara tahun ini telah bertambah 40 juta. Dengan demikian, saat ini ada 400 juta pengguna internet di Asia Tenggara, atau 70 persen dari total populasi region ini.

com-Ilustrasi belanja di toko online kesehatan Foto: shutterstock

Baca Juga :

Setidaknya, ada lima sektor utama yang menunjang pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara, yakni e-commerce, transportasi dan antar makanan, travel online, media online, dan fintech. Google juga mencatat bahwa layanan edukasi dan kesehatan online menjadi dua sektor yang punya akselerasi cepat selama COVID-19.

E-commerce menjadi sektor ekonomi digital yang paling besar tumbuh dengan catatan 63 persen di banding tahun lalu. Sektor tersebut saat ini memiliki nilai 62 miliar dolar ASpada tahun 2020.

Capaian sektor e-commerce tersebut tidak mengherankan mengingat virus corona membuat orang lebih suka berbelanja dari rumah daripada ke toko fisik. Google sendiri memprediksi kalau di tahun 2025, nilai ekonomi e-commerce di Asia Tenggara bakal tembus ke angka 172 miliar dolar AS.

Sementara sektor travel online mengalami kontraksi 58 persen dengan valuasi menjadi 14 miliar dolar AS saat ini. Meski demikian, estimasi Google menyebut kalau di tahun 2025, travel online akan tumbuh 33 persen ke angka 60 miliar dolar AS.

Berdasarkan negara, Google melaporkan kalau ekonomi digital di Singapura menyusut 24 persen menjadi 9 miliar dolar AS karena pandemi mencekik sektor travel online yang menjadi andalan di sana. Adapun Vietnam menjadi negara dengan capaian pertumbuhan ekonomi digital tertinggi, berkembang 16 persen ke nilai 24 miliar dolar AS.

Ilustrasi ekonomi digital. Foto: shutterstock

Baca Juga :

Indonesia sendiri berada di posisi kedua. Google memprediksi kalau nilai ekonomi digital Indonesia bakal mencapai 124 miliar dolar AS. Angka tersebut lebih kecil ketimbang estimasi ekonomi digital Indonesia pada 2025 dengan nilai 133 miliar dolar AS, pada laporan Google tahun lalu.

Dengan peningkatan pengguna online sebesar 11 persen, Asia Tenggara menjadi salah satu pasar internet dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Pertumbuhan penggunaan internet inilah yang membantu menciptakan unicorn seperti Grab dan Go-Jek, dengan startup di kawasan ini menarik miliaran modal dari perusahaan teknologi global dan perusahaan investasi.

Meski demikian, Google mencatat kalau kesepakatan investasi perusahaan digital di Asia Tenggara telah turun di banding 2019. Selama paruh pertama tahun ini, kesepakatan investasi hanya mencapai nilai 6,3 miliar dolar AS, sedangkan tahun lalu mencapai 7,7 miliar dolar AS tahun lalu.

Tren penurunan investasi perusahaan digital sendiri telah terjadi sejak 2018, menurut laporan itu. Investor masih memiliki modal yang cukup untuk digunakan tetapi lebih fokus pada jalur perusahaan menuju profitabilitas.

Baca Juga :

β€œAktivitas transaksi di seluruh wilayah terus tumbuh tanpa henti pada paruh pertama tahun 2020. Meskipun terjadi gejolak pasar, fundamental pertumbuhan di wilayah tersebut tetap kuat dan investor sangat optimis. Di mana tujuan tahun-tahun sebelumnya adalah “blitzscaling”, investor sekarang mencari pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” kata laporan tersebut.